Suatu sore di bulan April 2000, aku dipanggil "Big Boss", Pak Gun,
seorang duda berumur 55 tahun, yang sebentar lagi melangsungkan
pernikahannya yang kedua dengan Bu Enny mungkin sekitar umur 40-an,
setengah tua tapi kencang.
Dengan penuh tanda tanya di benakku,
aku masuk ke kantornya saat semua orang sudah pulang, maklum jam sudah
menunjukkan 18:30 sore.
"Silahkan masuk!" sapanya ramah dari balik mejanya setelah melihat kehadiranku.
"Terima kasih Pak," jawabku.
Setelah basa basi sejenak akhirnya Pak Gun mulai menuju poin pembicaraan.
"Pak
Hendra, mungkin anda masih ingat mengenai kasus di Proyek A dimana anda
adalah orang yang bertanggung jawab untuk itu," katanya dengan
santainya.
Serasa petir menyambar di kepalaku. Kasus itu sudah
terjadi setahun yang lalu ketika aku masih di kantor cabang Surabaya dan
memang kasusnya tidak pernah dinyatakan close atau masih open alias
menggantung.
"Ya Pak!" jawabku lemas, karena bayangan di kepalaku
hanya satu yaitu pemecatan dengan tidak hormat, meskipun semua orang
tahu bahwa itu bukan kesalahanku, tetapi kesalahan orang sebelum aku
yang sudah kupecat, tapi permasalahannya tetap who is responsible at
this project.
"Kamu tahu kan sangsinya sesuai aturan perusahaan!" lanjutnya.
"Iii.. ya Pak," jawabku seakan tersekat di tenggorokan, membayangkan resiko yang akan menimpa aku dan keluargaku.
"So what's your plan," desaknya.
"Saya
sudah clarify dengan Internal Audit mengenai hal itu, dan semua
keputusan kembali ke Bapak, jadi saya menunggu guidance dari Bapak,"
jawabku lirih sambil melihat ujung sepatuku.
"Apa kamu masih ingin bekerja terus disini, terutama di posisimu yang sekarang ini?" tanyanya selidik.
"Tentu Pak, saya masih ingin berkarir di perusahaan ini selama diberi kesempatan."
"Kalau kamu aku berikan second chance, apa yang akan kamu berikan padaku?" tanyanya.
"Maksud Bapak?" tanyaku balik tidak mengerti.
"Apa imbalannya kalau kasus ini aku nyatakan close dan anda bersih."
"Terserah Bapak, saya ikuti semua permintaan atau petunjuk dari Bapak," kataku setengah bingung.
"Semua?"
"Ya semua, saya akan berusaha penuhi semua permintaan bapak sejauh saya mampu."
"Ha.. ha.. ha.. ha.." tawanya, membuat aku semakin tidak tahu arahnya.
"Oke
Pak Hendra, aku pegang kata-katamu, kamu kan tahu sebentar lagi aku
akan married dengan Bu Enny, dan aku minta special gift dari kamu secara
pribadi the best gift you ever had," pintanya.
"Apa itu Pak, kalau
boleh saya tahu, biar tidak salah pengertian," tanyaku masih
kebingungan."Pak Hendra, you're a lucky guy, you have beautiful and sexy
wife, dia sangat attractive lady terutama kalau pakai baju pesta, aku
tahu itu saat perkawinan si Erwin (anaknya) tempo hari, it make me can
not forget about her performance," jelasnya.
"Maksud Bapak?" tanyaku makin kebingungan.
"Mungkin
saya bukan a good boss, tapi sebagai seorang laki-laki yang normal,
wajar dong kalau saya ber-fantasy dengan wanita cantik," lanjutnya.
"Terus..?" tanyaku lagi.
"Oke,
to the point saja, saya ingin ditemani istrimu semalam sebagai hadiah
ulang tahun dan kompensasi bahwa kasus ini close," katanya tajam sambil
menatap ke arahku.
Bagai disambar geledek, aku tidak bisa bekata apa-apa, situasi serba sulit.
Kehidupan
keluargaku cukup harmonis meskipun sesekali aku atau istriku melakukan
extramarital tapi itu just for fun dan tanpa beban seperti ini. "Pak
Hendra, permintaanku tidak perlu kamu jawab sekarang, tapi bicarakan
lagi dengan istrimu dan ingat janjimu tadi serta kelangsungan karirmu di
sini, aku tunggu jawabanmu sebelum pesta perkawinan nanti," katanya
melihat kebisuanku. Aku tinggalkan kantor dengan perasaan tidak karuan,
anehnya perasaan horny merayap di benakku, secara pribadi tidak
keberatan menyerahkan my beautiful wife pada Boss tapi bagaimana
tanggapan istriku nanti.
Sesampai di rumah, sambil santai dan deg-degan, kusampaikan masalahku dan akhirnya sampai pada permintaan Pak Gun.
"Dasar Boss gila dan tak tahu diri," katanya.
Setelah kami diam beberapa saat, akhirnya dia menyerahkan masalah ini padaku.
"Kalau
ini baik bagi Mas dan kita berdua, aku nggak keberatan kok, lagian kita
juga pernah melakukannya, meskipun dalam konteks yang berbeda."
Plong rasanya mendengar kata-katanya.
"Tapi
dengan syarat yang akan aku akan bicarakan langsung dengan Pak Gun
nanti kalau waktunya tiba, jangan kuatir Mas, I still love you, this is
for ours," katanya manja.
Waktu terus berlalu sejak pembicaraan
dengan Pak Gun, dan pesta perkawinan tinggal seminggu lagi, hingga
akhirnya Pak Gun mengingatkanku mengenai tawaran itu.
"Saya sudah bicara dengan istriku dan dia ingin bicara langsung dengan Bapak kalau Bapak tidak keberatan," jawabku melalui HP.
"Oh
tentu tidak, bicara dengan wanita secantik dan seseksi istri anda
merupakan kehormatan bagiku, I'm waiting for her call," katanya sambil
menutup pembicaraan.
Segera aku hubungi istriku untuk menelepon Pak Gun siang ini.
Sore hari aku diminta menghadap ke ruangan Pak Gun.
"Pak
Hendra, istri anda ternyata benar-benar seorang penggoda, makin besar
keinginanku untuk terhadap dia," katanya setelah kami berdua duduk di
sofa ruangan direksi.
"Istriku sudah menghubungi Bapak?"
"Ya tadi
siang, dan dia minta syarat yaitu dia mau menemani semalam tapi sebelum
aku bulan madu dengan Bu Enny," katanya sambil mengambilkan orange juice
dari lemari es.
"Istrimu minta pada saat wedding party dia mau
melayani disela-sela acara, di honeymoon suite dan dia minta kalau kamu
berminat ikut serta di kamar itu, sebagai hukuman katanya, dan kalau
kamu mau, kamu boleh join dengan aku malakukannya secara bersama sama.
Karena saat itu waktunya pasti mepet, dia mau malakukan lagi besoknya at
any time dengan syarat aku belum melakukan dengan Bu Enny, dan kamu
boleh join terserah kamu, it's horniest idea I ever heard," jelasnya
antusias.
"Terus menurut Bapak gimana? apa aku harus join?" komentarku.
"Aku
setujui permintaannya, karena acaranya standing party, I have many
chance to disappear dari party just for quicky dan aku minta dia stand
by di kamar at any time," jelasnya.
"Asal kamu tahu, aku sudah
reserve 2 suite at same floor, satu untuk pengantin dan satunya untuk
aku dan istrimu, setelah para tamu pulang istrimu stand by di kamar,
kamu bisa pakai juga untuk honeymoon lagi, tapi harus ready any time for
my visit, Anytime!" tegasnya.
Aku cuma bisa mengiyakan rencana mereka berdua.
Hari
perkawinan tiba, sesuai rencana kami berangkat lebih awal, dari
undangan jam 7:00 kami sudah tiba di Hotel Shangrila jam 3 sore, dan
langsung menuju ke suite yang sudah disiapkan untuk istriku, barangkali
Pak Gun mampir sebelum acara dimulai. Sementara istriku menyiapkan diri
di kamar, aku turun ke lobby, jam 6 sore para undangan dan keluarga
sudah kelihatan berdatangan. Aku naik ke atas untuk memberitahu istriku
supaya bersiap ke acara.
Kupencet bell kamar suite, cukup lama
aku menunggu sebelum pintu dibuka oleh istriku yang cuma berbalut
handuk. Diluar perkiraanku ternyata Pak Gun sudah di dalam kamar, beliau
duduk di sofa kamar tidur masih memakai baju putih lengkap dengan dasi
kupu-kupunya, sementara bawahnya cuma ditutupi handuk putih sama dengan
yang dipakai istriku.
"Sorry Pak, aku nggak sabar menunggu sampai
nanti malam, jadi iseng aku mampir kemari sambil menunggu Bu Ennie
di-make up di kamar pengantin," sapanya.
"Eh anu nggak apa kok, lagian kita sudah perkirakan, udah lama Pak?" tanyaku setelah bisa menguasai diri.
"Tepat setelah kamu keluar kamar ini, aku coba HP ternyata nggak kamu bawa, jadi aku mulai saja, any problem?" jawabnya santai.
"No
sir, it's okey for me, go head," jawabku, berarti sudah lebih 30 menit
dia di kamar berdua dengan istriku, entah apa yang sudah dilakukan
terhadap istriku yang cantik ini.
Istriku kemudian duduk di
sebelah Pak Gun, aku mengambil tempat di sofa satunya sambil melihat
mereka berdua. "Mari sini sayang kita lanjutkan permainan yang
terputus," kata Pak Gun. Dengan sekali tarik, terlepaslah handuk yang
membalut tubuh istriku, kini dia dalam keadaan telanjang di hadapan Pak
Gun, terlihat begitu kontras antara mereka berdua, Lily, istriku yang
cantik, 29 tahun, tinggi 167 cm dan ukuran dada 34B sedang berpelukan
dengan Pak Gun, Boss-ku yang berumur sekitar 55 tahun, dengan rambut
putihnya, meskipun sudah dibilang berumur ternyata postur tubuhnya masih
atletis, maklum sebagai ex tentara dia pasti masih menjaga kebugaran
tuguhnya.
Pak Gun dengan segera mencium buah dadanya yang kenyal
kebanggaanku dari satu ke satunya, dijilatinya dan sesekali disedot dan
dipermainkan putingnya dengan lidahnya, Lily cuma bisa menggelinjang
keenakan sambil tangannya mulai meraba mencari pinggiran handuk yang
dipakai Pak Gun dan menariknya sehingga terlepas. Terlihat batang
kemaluan Pak Gun menegak ke atas, memang tidak sebesar punyaku tapi
cukup hebat untuk ukuran seusia beliau. Istriku tak mau melepaskan
pegangannya di kemaluan Pak Gun, dikocoknya dan sesekali di putar-putar
seperti mainan anak kecil. "Kita lanjutkan yang tadi ya Pak," bisiknya
manja. Tanpa menunggu jawaban dari Pak Gun, dia berdiri di atas sofa,
dikangkanginya Pak Gun, Boss-ku, dia mengarahkan selangkangannya di muka
Pak Gun sementara beliau mengadah menunggu kedatangannya dengan mulut
terbuka dan lidah menjulur keluar. Unbelievable, Pak Gun yang selama ini
dihormati dan disegani orang sekantor sekarang sedang di antara
selangkangan istriku sambil menjilati vaginanya seperti orang kehausan.
Sesaat kulihat istriku melirik ke arahku sambil tersenyum penuh arti,
sementara tanganku mulai memijit-mijit kemaluanku yang masih tertahan di
dalam celana.
Tubuh istriku mulai turun-naik di atas wajah Pak
Gun seirama dengan gerakan lidah beliau, disapunya seluruh wajah Pak
Gun, sementara tangan Pak Gun meremas payudara dan pantat istriku."Shit,
you're damned old man, I like your lick, yess terus yaa.." teriak
istriku, cukup mengejutkan, tidak ada satu orang pun berani berkata
begitu kasar pada beliau, tapi kelihatan beliau oke-oke saja.
Aku sudah tak tahan, kukeluarkan kemaluanku dari celana sehingga sekarang aku bebas memegangi, tapi istriku tahu hal itu.
"Mas
Hend, this is not for you, you have no turn for this time, It's Boss
only, jangan macam-macam!" ancam istriku, dan aku menurut saja sambil
terdiam.
Istriku kemudian duduk di sofa, kakinya dipentangkan lebar dan lututnya ditekuk.
"Kiss
my ass and lick my pussy, you like it don't you, let my husband watch
his boss doing to his beutiful wife," dia berkata ke Pak Gun.
Pak Gun segera berlutut di depannya dan mulai menjilati vagina istriku lagi.
"It
smell good, yess I like your pussy," kata Pak Gun terus menjilat sambil
memasukkan jari tangannya ke lubang vagina istriku, mulanya satu
kemudian dua dan akhirnya tiga. Dikocoknya vagina istriku dengan jarinya
sementara lidahnya menjilati daerah vagina dan sekitarnya hingga ke
anus.
"Ohh yess I like it, yess terus Pak..!" desah istriku, sambil
mengangkat kakinya tinggi ke atas, kemudian ditumpangkannya ke pundak
dan akhirnya kaki mulus itu berpijak ke kepala dan bahu Pak Gun,
Boss-ku.
Pak Gun bangkit dan mengatur posisi kemaluannya di depan
vagina istriku, hanya berjarak satu inchi lagi dari bibir vaginanya,
tiba tiba istriku bangkit dan mendorong tubuh Pak Gun hingga beliau
terdorong ke belakang.
"I will not let you fuck me unless you promise
that you will not fuck her tonight and also tomorrow, this two days
you're mine, deal? otherwise no more other session after this," ancam
istriku kepada Pak Gun, my Boss.
Ditariknya istriku ke pelukannya
tapi istriku menolak dan tetap duduk di sofa hingga Pak Gun kembali
berlutut di depannya. "I'll do it whatever you request as long I can
fuck you," jawabnya, dan tanpa menunggu lebih lanjut segera dipeluknya
istriku dan tangannya mulai mengarahkan kemaluannya ke vagina istriku,
diusapnya bibir vaginanya dengan kepala kemaluan dan "Bless.." Tanpa
kondom, dengan sekali dorong masuklah kemaluannya ke dalam vagina
istriku yang sudah mulai basah, dia tidak pernah mengijinkan orang lain
bercinta dengannya tanpa kondom, tapi ini mungkin lain bagi dia. "Kamu
akan membayangkan betapa asyiknya bercinta denganku saat kamu berbulan
madu," bisik istriku. Setelah semua masuk ke vagina istriku, Pak Gun
perlahan mulai menggoyang tubuhnya keluar masuk dan istriku
mengimbanginya. Gerakan demi gerakan menambah erotic berdua, sementara
tanganku sudah mulai ikut mengocok kemaluanku, semakin cepat Pak Gun
mengocok istriku semakin cepat pula tanganku mengocok kemaluanku.
"Aaah
aku keluar.." teriak Pak Gun. Istriku segera mendorong tubuh Pak Gun
menjauh dan memintanya berdiri, sementara dia jongkok di depan Pak Gun,
tepat semprotan Pak Gun keluar ke arah muka dan tubuhnya, kemudian
istriku menjilati kemaluan Pak Gun yang masih belepotan sperma,
dikocoknya kemaluan itu dengan mulutnya hingga bersih. "Aaahh stop
udah.. udah, cukup!" teriak Pak Gun kegelian, sambil menarik kepala
istriku menjauh. Kemudian mereka berdua duduk di sofa dengan lemasnya.
"You
have incredible wife, I will not let her free tonight," kemudian dia
berdiri mengambil celananya yang tergeletak di ranjang.
"Jangan pakai celana dalam dan jangan coba-coba untuk mencucinya!" kata istriku.
Bersambung ...