Lia merasakan vaginanya penuh sesak oleh penis itu, benda itu bahkan
menyentuh dinding rahimnya. Aman mulai menggerakkan pinggulnya
maju-mundur, gesekan-gesekan nikmat langsung terasa baik oleh yang si
penusuk maupun yang ditusuk. Lia menggelinjang nikmat, tubuhnya
melengkung ke belakang, mulutnya mengeluarkan erangan. Erangan Fanny
lalu teredam karena Jupri menekan kepalanya dan menyuruhnya mengulum
penisnya kembali. Lia pun mencoba kembali berkonsentrasi pada penis
Jupri di tengah sodokan-sodokan Aman yang makin kencang.
Pelan-pelan
aja Man, ntar anu saya kegigit gimana ? kata Jupri melihat Lia agak
kesulitan mengulum penisnya karena tubuhnya berguncang terlalu hebat.
Hehehe
maaf deh Pri, keenakan sih sampai lupa.. Aman terkekeh lalu mulai
mengurangi sedikit kecepatannya. Dengan begitu Lia bisa lebih mudah
melayani penis Jupri sambil mengimbangi gerakan Aman. Lia
mengombinasikan hisapan dengan kocokan tangan pada penis Jupri membuat
Jupri merem melek merasakan kenikmatan yang tiada taranya itu.
Hampir
limabelas menit lamanya Lia diperlakukan sedemikian rupa. Tubuhnya yang
putih mulus sekarang kembali basah oleh keringat. Tiba-tiba Aman
melepaskan penisnya dari liang Vagina Lia. Perlahan dia mengarahkan
penisnya ke bagian anusnya.
Jangann..! Jangan di situ.. mmpphh..
Jerit Lia yang langsung teredam oleh sodokan penis Jupri pada mulutnya.
Aman sendiri tidak peduli dengan ucapan Lia barusan, dia berusaha
mati-matian mendesakkan penisnya ke dalam anus Lia.
AAHHKK.. Lia
sontak mengejang dan mendongakkan kepalanya, penis Jupri terlepas begitu
saja dari kulumannya. Aman rupanya telah berhasil memasukkan penisnya
ke dalam anus Lia. Selama beberapa saat Aman membiarkan saja Lia
menggeliat-geliat, seperti ingin menyiapkan anusnya agar bisa menerima
sodokan Aman. Aman lalu mulai menarik kembali penisnya keluar. Lia
meringis sekali lagi, air matanya makin deras mengalir, sakitnya luar
biasa seolah anusnya sedang diledakkan oleh kekuatan yang sangat besar,
tapi pada saat yang sama, Lia juga merasakan sensasi tersendiri dari
perbuatan Aman tersebut.
Pelan-pelan Aman mulai mendorongkan penisnya
lagi. Lalu dengan gerakan pelan, Aman mulai menggenjot penisnya pada
anus Lia. Lia merintih-rintih setiap kali Aman menyodok anusnya. Tapi
setelah agak lama, dia merasakan anusnya bisa menampung penis Aman.
Jeritannyapun mulai berubah menjadi erangan-erangan lirih. Aman perlahan
mulai meningkatkan tempo genjotannya sehingga membuat tubuh Lia
terguncang-guncang. Tiba-tiba Aman melingkarkan kedua lengannya ke
ketiak Lia dan menarik bahunya sehingga kedua lengan Lia sekarang
terkunci oleh lengan Aman dan terentang ke samping, membuat Lia terpaksa
melepaskan kulumannya pada penis Jupri. Dalam posisi seperti itu Aman
kemudian menarik tubuhnya ke atas ranjang sehingga keduanya terlentang
di atas ranjang dengan posisi tubuh Lia ada di atasnya.
Melihat hal
itu, Jupri ikut maju, dipentangkannya kedua belah paha Lia dan
ditekuknya ke arah samping sehingga mengangkang seperti kodok, membuat
vaginanya terkuak lebar.
Oohhh... janganh.. ahhh... Lia menyadari apa
yang akan dilakukan oleh Jupri pada vaginanya. Pelan-pelan Jupri mula
mendekatkan penisnya ke vagina Lia. Dan.
AAHHHHHKKK... Lia menjerit
saat penis itu menembus liang vaginanya. Sekarang dua batang penis besar
memasuki tubuhnya dari depan dan belakang. Lia meronta-ronta hebat saat
secara bergantian Aman dan Jupri menggenjot tubuhnya. Tubuh putih itu
menggeliat-geliat di dalam himpitan kedua penjaga rumah buruk rupa itu.
Dan sambil menggenjot vagina Lia, Jupri juga sibuk menciumi dan melumat
bibir Lia. Lia merasa tersiksa dihimpit kedua penjaga rumah yang
memperkosanya dengan brutal, tapi sebenarnya Lia juga merasakan sebuah
sensasi hebat yang bergolak dari dalam tubuhnya, bagaikan api besar yang
membara dan meledak-ledak di dalam tubuhnya, membuat Lia akhirnya
tenggelam dalam permainan seks bertiga itu. Apalagi ternyata Aman dan
Jupri sangat lihai dalam urusan seks, membuat sensasi dalam tubuh Lia
meledak.
aahhh... ahhhh... mau nyampe........ oohhh... udaaaahhh...
oohhh... udaaahhh... Lia merintih-rintih merasakan orgasmenya setiap
saat bisa meledak. Tapi kelihaian Aman dan Jupri dalam bersenggama
membuat mereka bisa menahan orgasme Lia. Mereka tidak ingin Lia selesai
dengan mudah. Setiap kali Lia akan meledakkan orgasmenya, setiap kali
pula mereka menghentikannya dengan bermacam cara, seperti dengan
menghentikan genjotan penisnya, atau menjambak rambut Lia sampai
kesakitan dan melupakan dorongan orgasmenya. Lia benar-benar dibuat
takluk oleh kedua penjaga rumah itu. Wajahnya sampai merah keunguan
merasakan sensasi orgasmenya berulang kali berhasil digagalkan. Entah
berapa lama tubuh Lia berada di dalam himpitan dan genjotan kedua
penjaga rumah itu. Lia sendiri sampai terlalu payah untuk merintih,
tubuhnya sekarang hanya tergetar dan menggeliat setiap kali hendak
orgasme.
Gimana rasanya dientot berdua Neng? Ngomong dong.. kata Jupri sambil terus menggenjot vagina Lia.
Eeegghh...
ennaaakkk... Oohhhh... Nikmathh... Ahhhhh..... jawab Lia sambil
membiarkan kedua puting payudaranya dijilat dan digigit kecil oleh
Jupri.
Apa Neng mau kalau saya hamili..? tanya Jupri.
Ehhkkhh....
iyaahhh... mauuhhh... oohhh... Lia menjawab asal saja. Mendengar hal itu
Jupri makin bersemangat menggenjotkan penisnya, seolah dia berharap
benar-benar bisa menghamili gadis kota secantik Lia. Sampai akhirnya
Jupri tidak tahan lagi untuk meledakkan orgasmenya.
AAGGGHHH..........
Jupri mengerang dan mengejang kuat, seketika spermanya menyembur deras
membanjiri rahim Lia. Jupri menggelepar merasaksn kenikmatan luar biasa
yang diperolehnya dari tubuh mulus Lia.
Setelah Jupri selesai,
giliran Aman sekarang menggenjot vagina Lia yang sekarang
ditelentangkannya di atas ranjang. Aman memang puny atenaga ekstra,
mungkin sudah lebih dari satu jam dia menyetubuhi Lia, tapi belum
sedikitpun ada tanda dia bakal selesai. Tubuh Lia yang sudah lemas hanya
bisa terhentak mengikuti setiap gerakan Aman yang menggenjot vaginanya.
Sambil terus menggenjot vagina Lia, Aman juga sibuk mencium dan melumat
bibir Lia. Karena sudah pasrah, Lia pun ikut membalas ciumannya, lidah
mereka saling membelit dan beradu, air liur mereka menetes-netes di
pinggir bibir.
Ahhh... ahhhh.... oohhhhh... oohhhh... Lia mengerang lirih setiap kali Aman menyodokkan penisnya secara brutal.
Lia
menggeliat antara sakit bercampur nikmat, perlakuan Aman yang kasar
ternyata justru membuat gejolak birahi Lia kian meledak. gaya bercinta
jon yang barbar justru menciptakan sensasi tersendiri. Di ambang
klimaks, tanpa sadar Astrid memeluk tubuh Aman dan memberikan ciuman di
mulutnya. Selama hampir lima menit kedua bibir itu saling bersatu
seperti terikat oleh benang yang tidak kelihatan sampai akhirnya Lia
mendesis panjang dengan tubuh mengejang, tangannya mencengkeram punggung
Aman dan menancapkan kuku-kukunya ke punggung itu membentuk bilur bilur
kemerahan.
AHHHHHHHHKKHHHHHHHHH.......... Lia menjerit keras.
Orgasme yang sebegitu lamanya tertahan akhirnya meledak juga, Lia
mencengkeram punggung Aman dengan begitu kuat. Tubuhnya melengkung
seperti busur, kakinya menendang-nendang ke segala arah dengan tidak
terkendali. Sungguh dahsyat orgasme yang didapatnya. Selama beberapa
detik lamanya tubuh Lia yang mulus itu melengkung dan menegang,
vaginanya berdenyut dengan sangat kuat mencengkeram penis Aman seolah
ada sebuah tangan raksasa yang menjepit penis itu dan menghancurkannya.
Aman
tidak bisa bertahan mendapatkan cengkeraman vagina Lia yang berdenyut
hebat itu. Tubuhnya ikut menegang. Aman menyodokkan penisnya dengan
kuat, seolah mencoba menahan ejakulasinya untuk terakhir kali, tapi dia
tidak mampu lagi bertahan.
OOHHKKKKKKKHHH....... Aman melenguh
panjang seperti banteng, tanpa bisa ditahan, spermanya menyembur deras
dan kembali mengisi rahim Lia. Perlahan tubuh mereka kembali melemas.
Aman langsung ambruk kelelahan menindih tubuh mulus Lia yang juga
kepayahan. Ketiganya terkapar tidak berdaya setelah mencapai kepuasan
seksual secara hampir bersamaan. Perlahan keduanya tertidur dalam satu
ranjang.
Malam sudah hampir turun saat Lia membuka matanya. Tubuhnya
teras sangat letih dan sakit seperti ada serombongan orang yang baru
saja memukuli tubuhnya. Dirasakannya ada sesuatu menindih tubuhnya.
Ternyata kedua penjaga rumah itu masih tertidur di sampingnya dengan
tangan mereka memeluk tubuhnya. Tangan Aman bahkan masih mencengkeram
payudaranya.
Dengan gerakan pelan, Lia menyingkirkan kedua tangan
nakal itu dengan harapan keduanya tidak terbangun, tapi harapannya buyar
saat Aman tiba-tiba membuka matanya.
Lho.. sudah bangun ya Neng..? katanya sambil tersenyum. Sontak Lia mendekap kedua belah payudaranya yang masih telanjang.
Ngapain juga ditutupin Neng, entar paling kebuka lagi.. kata orang di sebelahnya. Jupri rupanya sudah bangun juga.
Benar
tuh Neng.. kata Aman sambil berusaha melepaskan dekapan tangan Lia dari
payudaranya, begitu juga dengan Jupri. Lia hanya bisa menangis tapi
tidak kuasa menolaknya, payudaranya kembali menggantung bebas telanjang.
Neng
emang cantik dan pintar.. kata Aman sambil meremas-remas payudara Lia
sebelah kiri, sedangkan Jupri menikmati payudara Lia yang sebelah kanan.
Iya
nih.. Neng jago banget lho ngentotnya, Bapak jadi ketagihan nih..
timpal Jupri. Lia hanya mendesah pelan merasakan payudaranya digumuli
oleh kedua pria itu. Keduanya lalu menyuruh Lia untuk mandi bersama
mereka, sambil mandi, sesekali mereka juga meraba dan meremas-remas
payudara dan pantat Lia, Jupri bahkan nekad menyabuni bagian
selangkangan Lia membuat Lia mendesah tertahan.
Selesai mandi, mereka
mengijinkan Lia untuk berpakaian, tapi hanya celana dalam saja yang
boleh dia pakai sementara tubuhnya yang lain tetap diharuskan telanjang.
Lia lalu dibawa ke ruangan tengah. Di sana sudah ada Pak Kades yang
menunggu.
Wuah.. sudah cantik lagi Neng kita satu ini.. komentar Pak
Kades melihat Lia yang sudah bersih. Wajahnya yang tanpa polesan
kosmetik terlihat justru semakin cantik, apalagi saat itu Lia hanya
memakai celana dalam saja, sehingga tubuhnya yang mulus terbuka,
membuatnya menjadi semakin mengundang selera.
Nah.. malam ini Neng
Lia Bapak minta untuk menjadi pelayan kami. Neng Lia harus melayani kami
apa saja, mulai dari urusan dapur sampai urusan kasur. Kata Pak Kades.
Dan sekarang Neng ambilin makanan di dapur sana..
I.. iya Pak.. jawab Lia tersedu, air matanya kembali mengalir.
Sudah,
jangan nangis, sana cepat ke dapur! perintah Pak Kades. Lia dengan
gugup menurut. Beruntung Lia tidak disuruh memasak pula, seumur hidup
Lia tidak pernah menginjakkan kakinya ke dapur apalagi memasak, sebagai
anak orang kaya semuanya selalu siap di depannya tanpa perlu bersusah
payah.
Lia membawa makanan dari dapur ke ruang tengah. Tapi dia lupa
membawa piring dan sendoknya membuat Pak Kades marah. Lia segara berlari
kembali ke dapur dengan tergesa-gesa.
Sambil makan, mereka bertiga
menyuruh Lia untuk menari sebagai hiburannya. Lia terpaksa melakukannya,
diiringi musik dangsut yang diputar dari sebuah radio mini Lia mulai
menari telanjang dengan gerakan luwes. Lia terbiasa dugem sehingga
gerakan-gerakannya mengalir begitu lancar. Ketiga orang pria bejat itu
bertepuk tangan sambil bersuit suit menikmati keindahan tubuh telanjang
Lia yang sedang meliuk-liuk erotis.
Ahh.. yaa.. bagus Neng.. terus
aja narinya, Kata Pak Kades sambil tetap makan. Mereka serasa sedang
makan di restoran atau kafe dengan adanya hiburan merangsang itu. Mereka
paling suka saat Lia menari seperti penari striptease sambil
berpura-pura melakukan mastrubasi dengan meremas-remas payudaranya
sendiri.
Puas dengan tarian telanjang itu, merekapun menyuruh Lia
berhenti. Lia yang kekelahan langsung terpuruk di lantai. Apalagi dia
belum makan. Kepalanya terasa pusing.
Oh.. Neng mau makan ya..? tanya
Pak Kades setelah mengetahui Lia melihat ke atas meja, dimana di situ
terhidang makanan yang masih tersisa.
Iya Pak.. kata Lia penuh harap.
Kalau Neng mau makan ada syaratnya Neng.. kata Pak Kades. Turunin celana dalamnya Neng..
Lia terkejut mendengar ucapan Pak Kades. Dia menggeleng sambil ketakutan.
Terserah kalau Neng nggak mau nurunin celana dalamnya, nggak dapat makanan. Kata Pak Kades kalem.
Iya
Pak.. baik .. Lia berkata cepat. Dia segera memelorotkan celana
dalamnya sendiri sampai sebatas lutut. Vaginanya sekarang telanjang.
Hehehehehe...
Neng memang pintar. Kata Pak Kades sambil memelototi vagina yang licin
bersih itu. Sekarang pegangan ke meja. Lalu renggangin kakinya. Perintah
Pak Kades sambil menunjuk ke arah meja. Liapun menurut membuat tubuhnya
membungkuk deangan pantat menungging. Lia tahu sebentar lagi dirinya
kembali akan diperkosa, tapi sedapat mungkin dia berusaha pasrah.
Hehehehe..
pintar. Kata Pak Kades. Kalau mau makan, Neng lia harus bersedia
dientotin sama kita. Tambahnya. Tapi kali ini Neng boleh pilih siapa
berhak ngentotin Neng.
Sejenak Lia merasakan kebingungan yang luar
biasa, memilih sesuatu yang buruk dari yang terburuk bukan pilihan yang
mudah. Sampai akhirnya Lia menjawab.
Saya pilih Pak Kades saja.. jawab Lia tersendat.
Kenapa pilih saya? tanya Pak Kades yang membuat Lia kebingungan tidak tahu harus menjawab apa.
Ehh.. karena.. karena Bapak ganteng sih.. jawab Lia sekenanya. Pak Kades tertawa mendengar jawaban seadanya itu.
Bagus
kalau begitu, sekarang siap ya Neng.. kata Pak Kades sambil berjalan
menuju ke belakang Lia. Vaginanya yang sudah terbuka sepetinya sudah
siap dimasuki oleh penis lagi. Pak Kades langsung memasukkan penisnya ke
dalam liang vagina Lia. Dan perlahan Pak Kades menggenjot vagina Lia
dengan penisnya. Lia merintih-rintih kesakitan karena vaginanya belum
siap menerima penis yang disodokkan dengan ganas. Tapi Pak Kades tidak
peduli. Dia hanya ingin mereguk kenikmatan seksual dari tubuh mulus
gadis kota itu sebanyak mungkin. Dan setelah sepuluh menit disetubuhi,
Liapun akhirnya kembali terangsang meskipun itu di luar kehendaknya.
AHHHHH.........
AHHHH......... Lia mengerang keras sambil menggeliat liar, tubuhnya
menegang, tangannya mencengkeram meja dengan kuat dan kemudian perlahan
mengendur lagi lalu melemas kehabisan tenaga, rupanya Lia kembali
mengalami orgasme. Pak Kades yang sedang menggenjotnya pun semakin
bernafsu, penisnya ditekan lebih dalam sampai bibir vagina Lia ikut
tertekan. Beberapa detik kemudian dengan erangan penuh kepuasan, Pak
Kades menumpahkan spermanya di dalam rahim Lia, genjotannya masih
berlanjut sekitar 1-2 menit ke depan, dari vagina Lia nampak menetes
cairan sperma yang kental, lalu Tubuh Lia kembali melemas. Tubuh Lia
langsung terpuruk di lantai setelah Pak Kades melepaskan pegangannyna
pada pinggul Lia.
Hehehehe.. sekarang Neng baru boleh makan, kata Pak Kades dengan wajah puas.
Oh.. belum Pak.. Aman mencegah. Neng cantik ini musti ngocokin kontol saya sama Jupri dulu.
Wah.. benar.. benar itu Man.. tapi jangan dimasukin ke tempiknya ya? Pak Kades menyetujuinya.
Lia
tersedu-sedu, hanya untuk bisa makan dia harus merelakan dirinya
digagahi tiga orang pria buruk rupa. Tapi Lia tidak punya pilihan lain
selain menuruti setiap kemauan mereka. Dia segera melakukan perintah
Aman saat kedua penis besar itu menyodor di mukanya. Lia melakukannya
dengan sebaik-baiknya dengan kedua tangan maupun bibir dan mulutnya.
Secara bergantian mulutnya mengulum penis mereka bergantian, sementara
kedua belah tangannya tidak berhineti mengocok batang penis mereka.
Sedot
teruss Neng... Ooohhhhiyah.... begituohhh.. ! kedua orang penjaga rumah
buruk rupa itu melenguh sambil meremas rambut Lia. Seperti sebelumnya,
Lia kembali menunjukkan keahliannya mengisap penis kedua orang itu. Kali
ini Aman dan Jupri tidak menahan diri lagi, saat mereka mencapai
klimaksnya, mereka memaksa Lia menengadah, lalu mereka berdua mengocok
penis masing-masing tepat di depan wajah Lia. Dan sesaat kemudian Aman
dan Jupri mengerang kuat, lalu sperma merekapun akhirnya menyembur
dahsyat menyemprot sekujur wajah Lia, wajah yang cantik itu sekarang
menjadi berlumuran sperma kental mereka berdua. Sebagian sperma mereka
mengalir masuk ke dalam mulut Lia, tapi mereka melarang Lia untuk
memuntahkannya, akhirnya Lia terpaksa menelan sebagian sperma yang
membasahi wajahnya. Barulah setelah itu mereka mengijinkan Lia untuk
makan.
Maka sepanjang hari itu, sampai menjelang subuh, Lia dipaksa
terus menerus merelakan tubuhnya dijadikan sarana pelampiasan nafsu
seksual ketiga pria bejat itu. Ketiganya menyetubuhi Lia dengan berbagai
macam gaya yang bisa mereka praktekkan. Lia sendiri tidak ingat sudah
berapa kali ketiganya memperkosa dirinya karena hampir tiap jam mereka
memaksanya untuk bersenggama secara bergiliran. Dirinya tidak ubahnya
sebuah piala bergilir yang dipaai untuk memuaskan nafsu binatang ketiga
orang itu. Lia merasa dirinya lebih hina daripada seorang pelacur yang
paling rendah sekalipun, sebagai anak orang kaya harus merelakan
tubuhnya dinikmati oleh tiga orang pria yang sangat jauh bedanya dengan
dirinya.
Tamat