Nama saya, sebut saja Linda, married, belum punya anak. Saya dan suami
kebetulan keturunan Chinese. Bedanya saya lahir di salah satu kota di
Jawa, sedangkan suami saya lahir China sana. Cerita ini terjadi saat
misoa saya sehabis bulan madu 3 bulan, langsung tugas ke Abroad (sampai
saat itu sudah hampir 4 bulan) jadi total 7 bulan after married
kejadiannya. Tidak ada dia puyeng rasanya kepala (biasa bermesraan,
maklum baru).
Di suatu siang saat saya naik taksi ke arah Senen
dari Megaria tiba-tiba di radio terdengar Jakarta rusuh. Sopir panik,
akhirnya setelah di pertigaan Salemba tidak jadi ke kiri langsung ke
arah perempatan Matraman. Tanpa pikir lagi taksi dibelokkan ke arah
Pramuka. Untungnya saat itu terdengar di radio bahwa perempatan
Rawamangun (by pass) terjadi pembakaran. Akhirnya taksi dibelokkan ke
satu hotel besar di Jl. Pramuka (Hotel S). Sesampai di sana sopir minta
maaf dan lapor satpam, saya diturunkan di situ, satpam marah. Namun
seseorang menghampiri, orangnya gagah, necis, berjas, hitam tinggi
besar, educated, sopan. Dia bilang sesuatu ke satpam akhirnya satpam
membolehkan saya sementara waktu beristirahat sambil memantau keadaan
lalu lintas.
Saya diberikan tempat/kamar di lantai 10, bersih.
Ngeri juga, mana sendirian lagi. Tapi mendingan daripada di luar. Tak
terasa sudah sore, ada yang mengetuk, pelayan menanyakan mau makan apa?
Saya bilang tidak usah, mau pulang saja. "Di luar masih rusuh Bu, tuan
bilang tinggal aja dulu di sini, sampai keadaan aman," sahut pelayan.
Dalam hati, tuan siapa? Saya diberi handuk dan peralatan mandi. Ragu
juga mau mandi, takut ada yang mengintip. Ah ada akal, saya matikan
lampu kamar mandi terus mandi buru-buru yang penting bersih plus gosok
gigi. Tak lama hari mulai gelap, makanan datang disertai pelayan dan
lelaki hitam yang simpatik itu. Dia tersenyum mensilakan saya mencicipi
hidangan bersamanya, pelayan disuruh pergi. Karena memang sudah lapar
saya makan, sambil sesekali menjawab beberapa pertanyaannya. Mukanya
berubah saat saya menjawab bahwa sudah bersuami dan sedang ditinggal
tugas hampir 4 bulan. Selesai makan kami tetap ngobrol kesana kemari,
sampai pelayan datang lagi membersihkan meja, dan pergi lagi dengan
meninggalkan kami berdua. Saya ingin cepat-cepat keluar dan tiba di
rumah.
Seperti mengetahui jalan pikiran saya dia menghampiri dan
mencoba menenangkan, "Tenang saja dulu di sini, kalau perlu nginap
semalam, lebih aman." Tangannya menggenggam jemari saya. Besar sekali
dan terkesan kuat/kekar.
Dia bilang, "Panggil saya Marvin saja!"
"Bolehkah saya panggil Linda saja? Biar akrab?" tanyanya.
Terpaksa
saya mengangguk. Merinding tubuh saya disentuh lelaki lain selain
suami. Dia mengelus-elus lembut tangan saya. Mendesir seluruh peredaran
darah saya. Antara ingin menepiskan dan keterpesonaan pada penampilan
fisiknya yang sangat seksi menurut penilaian saya. Ah, tapi sepertinya
dia orangnya baik juga, mungkin dia turut prihatin atas keadaan saya.
Dilihat dari pakaiannya dan bau parfumnya jelas pria asing ini dari
kalangan berduit. Tampangnya perpaduan orang India, Arab, Afrika, atau
Negro Amerika. Rambutnya agak plontos. Giginya putih. Tingginya antara
185 sampai 190 cm. Lebih mirip bodyguard.
Tiba-tiba saya
merasakan agak pening, tanpa sadar saya memijit-mijit kening sendiri.
"Are you Ok?" katanya, sesekali memang dia bicara Inggris, meskipun
telah fasih bahasa Indonesia (sudah 10 tahun katanya di Jakarta). Saya
tak bisa menolak saat, dia membantu memijit-mijit kening saya, lumayan
juga agak mendingan. Saya disuruh istirahat dulu dan dibimbingnya ke
kamar tidur. Spreinya warna biru muda polos, tembok kamar kuning muda,
sangat kontras. "Tiduran dulu aja," katanya. Saya takut. Tapi demi
menyadari bahwa itu percuma, saya hanya berharap semoga tak terjadi
apa-apa. Saya berbaring, sementara dia duduk di pinggir tempat tidur.
Sangat riskan karena sewaktu-waktu dia dapat menyergap dengan mudah.
"Lin, telungkup aja!" katanya.
Yach, untunglah agak mendingan, begini.
"Biar lebih enakan, saya pijitin punggung kamu yach," katanya.
"Tidak usah Mister, eh Marvin.." kata saya.
Tapi
dia telah mulai memijit tengkuk saya, bahu, oouhh enak sekali, pintar
juga dia. Punggung saya mendapat giliran. Saking enaknya tak terasa dia
juga memijit bokong saya, paha, betis sampai mata kaki dan telapak kaki.
Segar rasanya tubuh ini.
Dia minta saya buka baju (kurang ajar orang ini!). Dia bilang mau dikasih lotion biar tidur enak dan tambah segar.
"Marvin, saya ini orang baik-baik dan bersuami, kamu tidak akan macam-macam kan?" tanya saya.
"Tidak dong Lin," katanya.
Dia
membantu membuka baju saya, dan eehh celana saya dijambretnya sekalian.
Saya tinggal ber-BH dan CD. Sementara dia masih berjas. Terakhir baru
dia melepas jasnya, tapi tetap berkemeja dan celana panjang. Dia
melumuri bagian belakang tubuh saya dengan lotion yang enak baunya. Saya
tambah keenakan dipijit begitu. Hilang rasanya semua stres. Saya
diminta berbalik/baring. Nach, ini masalahnya. Dia senyum seperti cuek,
memijit kening dan kepala, leher, dada (ough tidak menyangka termasuk
kedua payudara saya (yang masih ber-BH) diputar-putarnya. Saya kaget,
tapi belum sempat protes dia telah pindah ke perut dan pinggang, seolah
itulah prosedurnya. Kembali saya terdiam, dan sekarang sampai ke paha,
dia juga memijit-mijit CD saya.
"Stop Marvin..!"
Tapi dia diam, terus pindah ke kaki.
"You are so beautiful Linda," katanya sambil menduduki betis saya.
"Oh God, help me please.." dalam hati.
Tapi
dia tidak memaksa, lembut, sopan, dia buka kemeja dan kaos dalam. Wow,
sangat menggiurkan, kokoh, atletis, otot-ototnya terlihat, bulu dadanya
itu, seksi sekali. Kelihatannya dia orang yang peduli dengan keindahan
tubuhnya. Mirip binaragawan. Ah, saya tersadar saya bersuami.
"Marvin jangan..!" teriak saya.
"Apa Babe..? katanya sambil kedua tangannya menggenggam kedua tangan saya.
Oh,
dia mulai mengecup mata saya (saya dipaksa), pipi saya, bibir saya,
tapi saya tutup mulut saya rapat-rapat, saya tersinggung, saya tak rela
lidahnya menjilat-jilat lidah saya. Agak kesal dia turun ke leher, dan
tampaknya siap mencupang.
"Ohh jangan Marvin, nanti kelihatan orang, pleasee.."
Dia berhenti.
"Kalau gitu yang tidak terlihat ini dong.." katanya.
Dia
membuka BH saya, dan mulai menghisap puting kiri saya. "Ooughh.."
mendesir sekujur tubuh saya sampai ke kemaluan saya. Tangan saya melemas
tak berdaya, apalagi jemari kirinya yang kokoh memilin-milin puting
kanan, tangan kanannya meremas-remas pantat saya.
Mulutnya
kemudian saling berpindah dari puting kiri ke kanan dan sebaliknya.
"Payudaramu indah sekali Lin, I like it, not too big. Yes, it's really
an asian taste," katanya. Tak tahan saya menerima permainannya, sangat
lain, beda, pintar sekali. Payudara saya langsung mengeras. Kedua puting
saya kontan meruncing, tegak. Kombinasi antara lembut dan terkadang
agak kasar ini, belum pernah saya rasakan sebelumnya. Saya sering
dihisap begini oleh suami tapi tak pernah senikmat ini. Apakah karena
sudah terlalu lama menganggur? Terbengkalai? Gersang? Perlu siraman?
atau birahi saya yang memang terlampau besar? Tak terasa tahu-tahu dia
telah meninggalkan beberapa cap merah di sekeliling kedua payudara saya
yang telah kencang. Jemarinya mulai merasuk ke belahan kemaluan saya,
tangan satunya meremas-remas pantat saya. Ogh! dia menggesek-gesek liang
kemaluan saya dengan jemarinya. Ooouuww, serangan bersamaan di lubang
kemaluan dan hisapan puting menyebabkan saya orgasme, yang pertama
setelah 4 bulan lebih libur panjang. Tanpa sadar mulut saya terbuka
menahan nikmat. Dasar dia canggih, tahu kesempatan, mulutnya menyumpal
mulut saya, dan lidahnya saat ini berkesempatan menari-nari mencari
lidah saya. Saat ini tak sanggup saya menolaknya. Oouuh, enak sekali.
Saya
tanpa sadar membalas jilatannya. Sementara kemaluan saya membanjir
dengan CD yang telah terlepas entah kapan. Jari tengahnya mulai
menusuk-nusuk perlahan ke dalam lubang kemaluan saya. Ouugh, semakin
dalam, dalam sekali, belum pernah saya ditusuk sedalam ini, oouugh
nikmatnya. Jarinya saja panjang begini apalagi "burung"-nya. Sejenak
saya tersentak,
"Marvin, cukup.. saya tidak mau kamu melakukan itu," kata saya.
"Itu apa?" katanya.
"Itumu jangan dimasukkan, Marvin."
"Why?" tanyanya.
"Your thing is too big," jawab saya.
"Ahh, ini cuma jari," katanya lagi.
"Janji ya.. Marvin, dan tolong pintunya dikunci dulu nanti ada yang masuk."
Dia malah menyahut, "Tidak ada yang berani ganggu saya, kamu aman sama saya," kata Marvin meyakinkan.
Saya
agak tenang, untuk selanjutnya kembali menikmati permainannya yang
sangat spektakuler. Saya lupa bahwa telah bersuami. Marvin mulai membuka
celana panjangnya. Belum sempat protes, dia telah menyergap mulut saya
lagi, yang sekarang sudah hilang kekuatan untuk menghindarnya. Saya
jelas saat ini telah telanjang bulat, dia tinggal ber-CD. Mulut dia
kembali menghisap puting saya terus ke pusar, dan serta merta dia
menjilati lubang kemaluan saya dengan kecepatan tinggi. Wooww, nikmat.
Seolah dia menemukan permainan baru tangan dan mulutnya berkecimpung di
sana. Saya hanya bisa mendesah, mendesis, melenguh. "Uuueehhggh.. Oh!
Oh! Oh! Oouughh.." Selagi asyik begitu dia langsung stop! dan mendekap
saya, seraya berbisik di telinga,
"Enak tidak Babe," saya mengangguk.
"Mau lagi?" katanya. Saya mengangguk.
"Kalau mau lebih enak, dimasukin ya?"
"I'm afraid Martin, please.. help me. Ooogghh.."
Saya sudah tak kuasa menahan dorongan yang sangat aneh dari dalam tubuh ini. Belum pernah senelangsa ini, benar-benar pasrah.
"Ooohh, Marvin.."
Sepertinya dia ingin menyiksa saya dalam kehausan saya.
"Punya suamimu berapa panjangnya?" tanyanya.
"Lima belas," jawab saya.
"Wow so panjang, 15 inch?" tanyanya lagi.
"No, Marvin.. 15 cm," jawab saya.
"No problem, punya saya cuma selisih sedikit, nanti kalau kepanjangan tidak usah dimasukin semuanya yach..?"
"And supaya tidak kaget you kenalan dulu, pegang dulu, kulum dulu, Ok? Don't worry Babe," hiburnya.
Dia
kembali melakukan serangan dengan menjilati kemaluan saya. "Ooouughh,"
kemudian menghisap puting saya. "Ouuggh," sambil tangannya melepas
CD-nya. Lidah kami saling mencari saling membutuhkan, dan tampaknya ada
sesuatu yang lembut agak keras, besar, panjang menempel di atas paha
saya.
"Honey, saya tahu you sudah tidak tahan, dan seandainya saya
pergi, terus ada lelaki lain masuk mau ngegantiin saya, you pasti mau
juga 'kan?"
"No.. Marvin, please entot saya Marvin.." pinta saya.
Meskipun
dalam hati membenarkan apa yang dikatakannya karena sudah terlampau
berat dorongan ini, pingin segera dicoblos pakai apa saja, punya siapa
saja. Ah, saya dipaksa duduk melihat punyanya. Woow, besar sekali dan
panjang. Hitam sekali, agak ungu, biru, kokoh, mana mungkin bisa masuk.
Saya dipaksa untuk memegangnya, saking besarnya tidak cukup satu tangan,
harus dua. Diameternya lebih panjang dari pergelangan tangan saya.
"Gede mana sama punya suamimu?" tanyanya.
Saya diam karena ngeri.
Panjangnya hampir 2 kali barang suami saya. "Ayo dikulum dulu!" Saat
itu entah kenapa mungkin karena saya sedang terangsang, saya turuti saja
apa maunya. Mulut saya hanya mampu menerima kepalanya saja, itupun
harus membukanya lebar-lebar.
"Sudah ah.." kata saya.
"Kamu siap ya.." katanya.
"Sebentar aja ya!" kata saya lagi.
Marvin
sangat memperhitungkan kondisi saya, dia tidak terburu-buru, dengan
mesra dia mencumbui saya lagi, menghisap puting, kemaluan, meremas
bokong, dan kombinasi lainnya termasuk menjilati lidah saya bolak balik.
Tibalah saatnya, kedua paha saya direnggangkan lebar-lebar. Saat itu
saya merasakan nikmat tiada terkira yang diakibatkan oleh serangannya
yang seolah terukur dapat mengantar saya ke puncak birahi. Sesaat saya
lupa kalau saya bersuami, yang saya ingat cuma Marvin dan barangnya yang
besar panjang. Sudah mendongak ke atas, lebih mirip terompet tahun
baru. Ada rasa takut, ada pula rasa ingin cepat merasakan bagaimana
rasanya dicoblos barang yang lebih besar, lebih panjang, lebih hitam.
"Ooouugghh," tak sabar saya menunggunya.
Marvin memegangi kedua
paha saya yang telah terbuka lebar-lebar, dia masih menjilati terus
kemaluan saya yang entah sudah berapa kali orgasme.
"Babe, biar nikmatnya selangit kedua jemarimu coba memilin-milin kedua putingmu bersamaan sambil saya melakukan ini," katanya.
Dan, oh ternyata benar-benar enak. Mengapa suami saya tak pernah memberitahu saya.
"Cepat.. Marvin.. please.. masukkan.."
Kepala burungnya yang besar hitam sudah menempel pelan di bibir kemaluan saya.
"Do you need this big black cock, Linda?"
"Ya, masukkan sedalam-dalamnya, saya tak tahan lagi Marvin, please.. entot saya..!" kata saya.
"Wait.. wait Lin, pintunya 'kan belum dikunci?" katanya.
"Biarin.." kata saya benar-benar sudah melayang tak tahan.
"Nanti orang lain atau suamimu lihat?" katanya.
"Biarin," kata saya lagi.
Dan.. "Bleessh" kepalanya susah payah sudah masuk.
"Wooww sakit.. sakkiitt.. Marvin.." erang saya.
"Sebentar ya..?" katanya terus menggenjot pelan.
"Ooougghh stop.. Marvin!" saya benar-benar merasa kesakitan tetapi campur nikmat.
Saya
heran, kok seperti masih perawan saja, padahal sudah diterobos Misoa,
cuma memang barangnya kecil. Marvin sebenarnya tinggal napak tilas saja.
Ternyata harus membuka jalan baru di sampingnya dan di kedalamannya.
"Bagaimana sayang.. masih sakit?" tanyanya. Saya terdiam sebab kadang
sakit kadang nikmat. Dia mendorong perlahan sampai kira-kira seperlima
panjangnya. Maju mundur, oh mulai agak nikmat.
"Babe, lubangmu ternyata gede juga.. cuma selama ini 'idle' aja.."
"Iya.. Ooouuww sekarang 'full capacity' Marvin.. Oh.."
Marvin
terus memperdalam jelajahnya dengan cara menarik sekitar 2-3 cm dan
memasukkan kembali 4-5 cm, sampai kira-kira mencapai 50 persen
panjangnya. Rasanya kalau suami saya sudah full segini. Marvin terus
melakukan itu, sekarang dia mulai berani mengocok agak keras cepat,
sehingga, "Oougghh, Oh.. Oh.. Oh. Oh.." Dia mulai mengisi ruang baru
yang tak tersentuh sebelumnya. Sangat terasa sumpalannya, kokoh, kuat,
bertenaga, jantan! Fantastis hampir semua miliknya yang panjang itu
tertelan, tinggal sedikit. Dan di sinilah keahlian Marvin.
Dia
kembali menarik sebagian barangnya, dan mempermainkan kocokan dengan
cepat tambah cepat antara kedalaman 30%-60% kira-kira 5 sampai 6 kocokan
diakhiri tusukan lembut seluruhnya (100%) terus diulang berkali-kali.
Sehingga menghasilkan irama desahan dari mulut saya, "Oh! Oh! Oh! Oh!
Oh! Ooouugghh.. Oh! Oh! Oh! Oh! Oh! Oouugffhh.." Mana tahan saya orgasme
lagi. Marvin sangat memegang kendali, pada saat dia menancapkan seluruh
rudalnya, dia diamkan sesaat digoyang-goyang pantatnya, dan berbisik,
"Lan.. lihat tuh di kaca.." Oh, tubuh besar hitam kekar sedang menindih
tubuh kecil putih mengkilat karena lotion.
"Siapa itu Lin?" katanya, saya diam dia mengocok.
"Siapa Lin? kalau kamu diam saya stop nih," kata dia.
Terpaksa saya jawab, "Marvin!"
"Sama siapa?" tanyanya.
"Saya.. Linh.. daah.. ah.."
"Who is Marvin?"
Ough,
belum dijawab dia mengocok lagi, nikmat sekali permainan ini selama 3
bulan lamanya bulan madu paling saya mengalami orgasme hanya 3 kali. Ini
belum semalam saja sudah lebih 5 kali.
"Bandingkan saya dengan suamimu, Ok? Kalau tidak saya berhenti," katanya.
"Oh.. no.. jangan berhenti Marvin, terusshhkan lebih kerass lebih dalammhh."
"Tapi jawab dong!" bentaknya.
"Iyyaahh..
Marvin," sambil dia menghantam-hantamkan rudalnya sepenuh tenaga, saya
merasakan kedua bijinya menyentuh-nyentuh kemaluan luar saya menambah
sensasi kenikmatan.
Tak tahan dengan kenikmatan yang amat sangat,
saya mencoba menyongsong setiap hantaman rudalnya dengan cara
mengangkat pinggul/pantat setinggi mungkin. Pada saat dia menekan,
menusuk saya songsong dengan mengangkat pinggul, sehingga hantamannya
yang keras semakin keras cepat, dan nikmat. Tubuhnya saya
terguncang-guncang naik turun seirama hentakan perkasanya. Sekilas
terlihat dari cermin, latar belakang tembok kuning muda, sprei biru
muda, tergolek pasrah wanita putih mulus mungil ditindih seorang pria
hitam besar dengan penuh nafsu. Tak ada pancaran ketakutan sedikitpun
dari wajah si wanita, selain pancaran wajah penuh birahi.
Sambil menikmati kocokannya, saya berusaha menjawab pertanyaannya.
"Marvin lebih kuat.. Oh!"
Dia menyeringai dan mempercepat kocokannya.
"Marvin lebih gede.. Ouugghh.. Haa!"
Dia menahan untuk kemudian menghentak dengan satu dorongan kuat.
"Marvin lebih pintarr.. ouwww.."
Dia menusuk dengan perlahan namun pasti sampai masuk semuanya.
"Marvin lebih panjaanngh.. Hoh.. Hohh.. Aw!"
"Marvin lebih lamaa.. aahh.. Oh!"
"Marvin.. lebih.. jantaanhh.. usfgghh! perkasaa.. Oh.. Oh.. Oh.. uuhh!"
"Marvin sangat nikamatth.. ennakhh terussh sayang.. teruszhh.. oouugghh mmhh.."
"Lin, aku mau keluar, di dalam nggak apa-apa atau dicabut?"
"No, jangan dicabut, keluarin di dalam saja Sayang.."
"Enak mana sama punya suamimu?" katanya.
"Enak inni.. hh.. Marvin!" kata saya jujur.
Pada
saat itu saya juga akan mencapai orgasme yang kesekian kalinya. Marvin
tiba-tiba merenggut, menjambak rambut saya. Dihentak-hentakkan. Oh,
ternyata mampu mempercepat orgasme saya.
"Ooouughh.."
"Seerr.."
Semprotannya
kencang sekali. Dibarengi dengan semburan cairan kewanitaan saya tanda
pengakuan akan kenikmatan yang diberikan Marvin. Marvin masih terus
mengocok pelan-pelan, setelah agak lama baru dikeluarkan rudalnya, dan
saking penuhnya isi kemaluan saya, terdengar bunyi "Plop!" saat
barangnya dicabut.
"Berapa sih panjangnya Marvin?"
"Cuma 23 cm."
Oh, pantas sampai sesak rasanya.
Saya tersadar, "Oh.. Marvin saya takut hamil!"
"Nungging aja, biar sperma saya balik lagi."
Terpaksa
saya menungging. Melihat saya begini, dasar nafsu dan tenaganya memang
Ok, Marvin menghajar saya lagi dari belakang. Dasar barangnya memang
kuat, besar dan panjang tidak ada kesulitan sedikitpun menyelusup dari
arah bawah belakang. Yang ada cuma saya dengan kenikmatan baru seolah
tanpa akhir. Mimpi apa semalam, kok dapat pengalaman yang aneh begini,
tapi nikmat sekali. Sulit untuk disesali.
Demikian cerita saya, jika ada pembaca yang ingin bertukar pikiran (cowok atau cewek), silakan hubungi saya melalui e-mail.
TAMAT
Disadur dari
http://rumahseks.blogspot.com