Sesudah dengan cepat menyelesaikan tugasnya Herman kembali memasuki
kamarnya. Dengan hati-hati dia mulai mengintip dari celah papan itu dan
menyaksikan ulah Pakdenya bersama Rini isterinya. Nafasnya terdengar
memburu sejalan dengan apa yang dia saksikan melalui celah dinding papan
artistik itu. Dia lihat bagaimana Pakdenya bersama istrinya bercumbu.
Nampak celana Pakdenya telah merosot ke lantai dan tangan istrinya
menggenggam kemaluannya yang gede panjang itu.
"Edan, penis
Pakde itu.. penis kuda.., Duh penis Pakdee.. penis ituu..," teriakkan
histeris dari hati Herman melihat kemaluan Pakdenya yang membuatnya
terpana.
Dia benar-benar terpesona dengan penis Pakdenya. Dan
lebih-lebih lagi saat menyaksikan tangan indah dan manis isterinya yang
biasa memegang berbagai macam makanan cattering pesanan tetangga itu
kini menguruti batang penis yang berkepala mengkilat kecoklatan.
Sementara Pakdenya dengan buas menyedot dan menggigiti dari leher turun
ke susu dan puting-putingnya hingga membuat Rini menggeliat dan mendesah
hebat sambil matanya merem-melek dan kepalanya tergeleng-geleng dan
mendongak kelangit-langit kamar utama Villa Rimbun Ciawi itu.
Blusnya
sudah lepas entah ke mana. Susu-susunya nampak ranum menggunung dan
putingnya mencuat siap untuk lahapan haus nafsunya Pakde Karto. Sesekali
kedengaran sentakan rintihannya. Itu disebabkan sesekali gigitan Pakde
menyentuhi saraf-saraf peka pada buah dadanya yang sangat ranum itu.
Tanpa
melepas pagutannya mereka bergeser dan bergeser untuk menuju rebah di
ranjang. Masih dalam busana atas yang lengkap dengan dasinya yang
setengah copot, sementara bagian bawahnya sudah telanjang bulat Pakde
Karto menindih Rini. Ditelentangkannya kedua lengan Rini ke atas hingga
kedua ketiaknya terbuka. Kemudian dengan penuh kehausannya Pakde Karto
menyosorkan bibirnya melumati lembah-lembah indah ketiak Rini. Rini
mendesah sambil bergelinjangan menggeliat-liat. Tak diragukan, pasti
akan banyak nampak cupang-cupang bekas sedotan-sedotan ganas pada ketiak
itu nantinya.
Dan kini Herman melihat mereka sambil mulai
mengelusi kemaluannya sendiri. Kupingnya menikmati rintihan atau desahan
istrinya. Sementara tangannya terus mengikuti alur sedotan dan jilatan
Pakde yang turun dari ketiak ke lembah dan bukit di dada Rini isterinya
itu.
Herman agak kesal, posisi Pakde Karto yang mencumbui
istrinya tak nampak jelas disebabkan celah papan ini kelewat sempit.
Yang jelas bisa dia tangkap jelas tinggalah suara-suara penuh iba
nikmat. Betapa rintihan Rini dan dengus Pakdenya saling bersahut telah
membuat dirinya semakin blingsatan karena terbakar birahinya. Tanpa
sepenuhnya dia sadari, dia juga ikut-ikutan melepasi celananya, hingga
tinggal kolornya yang tinggal. Tangannya merogoh kolor itu dan mengurut
dan memijit-pijit kemaluannya. Herman ikut terbawa melayang bersama
Pakde yang sedang melahap rakus isterinya.
Saat turun dari
ketiak, ciuman dan lumatan Pakde meratai lembah dan bukit di dadanya,
Rini nampak menggelinjang hebat. Pinggulnya menggeliat dan meliuk-liuk
menahan kegelian yang amat sangat seperti ikan moa yang terlepas
buruannya dan secepatnya berusaha menangkapnya kembali. Dan Herman juga
semakin kenceng merabai kemaluannya sendiri sementara wajah Pakde Karto
makin merosot ke perut isterinya.
Tak pelak lagi Rini mendesah
keras dan tangannya seakan mengiringi desahannya menangkap kepala Pakde
Karto dan menjambaki rambutnya untuk menahan badai birahinya. Dan Pakde
semakin menggila. Kini bibirnya sudah me-lamuti bulu-bulu kemaluan Rini
dan kemudian meluncur cepat ke bibir vaginanya.
Nampak banget
bagaimana bibir Pakde Karto mencaplok untuk melumati bbir vagina Rini.
Lidahnya yang menjilat sambil menyeruak menusuki vaginanya membuat Rini
histeris. Tingkahnya yang jatuh bangun disertai derasnya desah dan
rintih memaksa Herman mempercepat pijitan dan remasan pada kemaluannya,
bahkan kemudian dengan cepat merubahnya menjadi kocokkan ritmis.
Sambil
terus melototkan matanya untuk menembusi lubang intaian yang sempit,
kocokkan Herman yang semakin cepat nampak seperti pompa piston lokomotif
diesel penarik Parahyangan Ekspres. Herman tak tahan lagi untuk menahan
spermanya. Dan terjadilah orgasme Herman. Yaitu orgasme pertama yang
diraih berkat menyaksikan istrinya meliuk-liuk merasakan hebatnya nikmat
digauli orang lain yang bukan suaminya. Rasanya inilah spermanya yang
paling banyak tertumpah semenjak perkawinannya dengan Rini.
Pakde
secara intensif memberikan kepuasan penuh sensasi syahwat pada Rini.
Dia melakukan oral seks secara habis-habisan padanya. Lidahnya yang
besar dan kasar tentunya menyentuhi organ-organ vagina yang peka dan
lembut mlik Rini. Dan akibatnya tak terkatakan lagi, Rini bak kesetanan.
Tenaganya berubah menjadi sangat kuat. Kedua pahanya yang berposisi
menjepit leher Pakde menekan bahu Pakde untuk menaikkan pinggul dan
mengangkat pantatnya. Tujuannya jelas agar tusukkan lidah Pakde bisa
lebih jauh menembusi lubang vaginanya. Kegatalan yang amat sangat pada
vaginanya itu pula yang membuat kedua tangannya terus menariki kepala
ataupun rambut Pakde untuk lebih menekankan ke arah kemaluannya.
Pakde
yang sangat berpengalaman 'ngerjain' para perempuan, tahu bahwa Rini
sudah menunggu penisnya yang kini juga telah melar keras untuk
secepatnya menusuki vaginanya. Dengan akar-akar sarafnya yang mengitari
geligir batangnya serta desakkan darah yang menumpuk pada kemaluannya
hingga membuat sang penis itu membengkak besar dan kepalanya licin
mengkilat, kini Pakde sigap merubah posisi. Ditariknya kedua tungkai
kaki Rini hingga arah vaginanya tepat di pinggiran ranjang. Kemudian dia
angkat salah satu tungkainya untuk disandarkan pada panggulnya di bahu.
Dengan cara itu Pakde mengasongkan penisnya yang sudah matang itu ke
lubang kenikmatan vagina Rini. Sekali.., dua kali..
Herman
kembali mengintip. Sesudah beberapa kali kepala penis Pakdenya yang
besar sedikit kesulitan menembusi vagina istrinya yang sempit. Pada
tusukkan yang kesekian kali disertai desisan panjang dan kemudian
disusul dengan teriakkan nikmat, akhirnya penis gede itu berhasil
menembus vagina Rini istrinya. Bleesszz..
Menyaksikan itu
semua kemaluan Herman cepat kembali menegang. Dan agar menjadi leluasa,
Herman melepas pula celana kolor berikut celana dalamnya. Dan tangannya
kembali mengelusi sambil berharap bisa selekasnya tegak kenceng lagi.
Herman ingin meraih orgasmenya yang kedua.
Disaksikannya
Pakde Karto mulai memompa istrinya. Dan Rini sang istri benar-benar tak
berdaya oleh serangan syahwatnya. Sambil meracau dengan ucapan kata-kata
erotis kotor di tengah desisan-desisannya, dia meremasi sprei atau
bantal atau apa saja yang bisa diraihnya hingga ranjang itu berantakkan.
Kepalanya bergoyang keras ke kanan dan kiri sambil melempar-lemparkan
rambutnya yang indah itu.
Dan dari arah lebih tinggi dengan
satu kaki isterinya di panggulannya mata Pakde Karto mengamati tingkah
Rini serta menyimak segala racau dan desisan histerisnya itu. Dia
mainkan pompaannya seakan berputar menyodok ke kanan atau kekiri atau ke
atas atau ke bawah. Itulah 'multi jurus'-nya Pakde. Dengan cara itu
vagina Rini serasa di-ubek-ubek. Gatalnya tak lagi tertolong. Dan karena
itu pula kini Rini mulai menapaki puncak kenikmatannya. Rini mulai
menyongsong orgasmenya yang sejati. Orgasme yang rasanya belum pernah
dia raih dari siapapun.
Herman tahu, selama ini belum pernah
melihat isterinya sedemikian histeris sebagaimana yang dia saksikan kini
bersama Pakde Karto. Rupanya Pakdenya ini tahu benar apa yang ditunggu
Rini. Dan kini dia sedang suguhkan itu. Dari racau dan geliat serta
menghebatnya remasan-remasan tangannya pada apapun yang dia raihnya,
Rini kini menggelinjang hebat. Pinggulnya dia angkat-angkat
tinggi-tinggi serasa hendak menjeputi kemaluan Pakde agar menusuk lebih
dalam lagi ke vaginanya. Dan ketika akhirnya puncak-puncak itu
benar-benar datang, wajah Rini langsung berubah ganas. Matanya menjadi
nanar tanpa titik pandang. Dengan teriakkan bak hyena kelaparan Rini
bangkit mendorong dan merubuhkan Pakde untuk ganti rebah telentang ke
kasur. Dia 'cengklak' tubuh Pakde seperti seorang joki men'cengklak'
kudanya. Dengan gaya seakan hendak duduk tangannya merogoh dan meraih
penis Pakde untuk dia tusukkan ke vaginanya, dan dengan cepat vaginanya
langsung menelan amblas seluruh batangan kemaluan Pakde. Kini Rinilah
pemegang kendali.
Dengan cepat dia menaik turunkan pantatnya
memompakan penis Pakde ke vaginanya. Herman melotot mengamati vagina
Rini yang bisa memuntahkan dan kemudian menelannya kembali kemaluan gede
panjang milik Pakde Karto. Dari arah belakang pantatnya, nampak oleh
Herman bagaimana bibir vaginanya ketarik keluar dan kedorong masuk
terbawa oleh keluar masuknya kemaluan Pakde yang memang sangat sesak dan
sarat memenuhi belahan dan rongga vagina isterinya itu.
Dan
akhirnya datanglah malaikat nikmat itu.. Rini seakan membantingkan
tubuhnya ke tubuh Pakde. Dia menggigit dada dan mencakar-cakar
punggungnya. Vaginanya berdenyut keras menghisap-isap atau melumat-lumat
batang kenyal milik Pakde. Itulah tanda bahwa orgasme beruntun-runtun
sedang melanda Rini.
Mungkin runtunan orgasmenya itu
berlangsung hingga 20 atau 30 detik sebelum akhirnya tubuhnya gugur dan
rubuh dengan keringatnya yang mengucur menindih dan membasahi tubuh
Pakde Karto. Villa Rimbun Ciawi yang sebelumnya berubah menjadi panas
oleh radiasi yang memancar dari tubuh indah Rini kini sejuk kembali.
Dari
balik dinding Herman juga ikutan terkapar bersama tarikan-tarikan nafas
panjangnya. Dimatanya dia menyaksikan Pakde Karto telah menunjukkan
peranannya sebagai pelayan seks yang benar-benar hebat. Herman merasa
banyak belajar dari apa yang dia lihat hampir selama 1 jam ini. Pakde
bisa membaca arah kemana Rini mau. Dia mengejar kepuasan tetapi dia
meyakini kepuasannya akan dia raih apabila Rini, lawannya telah lebih
dahulu terpuaskan. Dan bagi dia, sebagai lelaki, kepuasannya tidak perlu
diraih seketika. Dia masih memerlukan stamina untuk berjalan lebih
panjang. Sebagai lelaki memerlukan stamina macam itu lebih dari
perempuan. Dengan cara itu rupanya Pakde Karto akan menikmati sepanjang
malam pertama ini. Dan Herman mulai mengerti, bagaimana Pakde Karto akan
mampu melayani Rini kapan saja, setiap saat. Dan segala marah, sakit
atau cemburu akan sia-sialah di depan Rini sepanjang dia tidak mampu
melakukan seperti yang Pakdenya bisa lakukan.
Sore itu sesudah
permainan pertama, yang mungkin oleh Pakde hanya dipandang sebagai
pemanasan, mereka berdua mandi bersama. Cukup dengan teriakkannya Pakde
menyuruh Herman untuk menyalakan gas LPJ yang membakar water heater di
kamar mandi utama. Sesudah mandi air hangat, dengan keduanya memakai
mantel tidur lembut yang tersedia di kamarnya Pakde bersama istrinya
bercengkerama di beranda villa. Atas permintaan Rini Herman disuruh
Pakdenya untuk membeli sate kambing di warung sate sebelah villanya.
Malam
itu Rini bersama Pakde menikmati sate kambing panas di meja makan.
Herman mesti sabar menunggu mereka selesai makan untuk bisa ikut
menikmati sate kambing dingin sisa mereka. Dia menerima semua perlakuan
ini dengan sabar dan berpikir positip. Ahh.. Herman.. Herman.., hebat
kau..
Selesai makan Rini dan Pakde pergi ke beranda dan duduk
berhimpit di sofa. Villa bulan madu ini seakan memang dibuat untuk
mereka. Dari balik pot-pot tanaman di samping beranda Herman merunduk
mengintip diantara dedaunannya. Herman yang mentalnya sudah jatuh
menjadi mental pelayan itu melihat bayang-bayang istrinya dalam
rengkuhan Pakdenya kembali. Dia amati betapa asyik istrinya dan Pakdenya
saling berpagut bertukar lidah dan ludah. Dan lihat, betapa agresifnya
si Rini. Tak pernah dia bersikap begitu pada dia selama masa
perkawinannya.
Dia saksikan bagaimana tangan Rini yang
demikian lancar melepasi ikatan tali. Dengan sekali renggut lepaslah
temali mantel tidur itu hingga tubuh Pakde langsung terbuka. Kemudian
dengan rakusnya bibirnya kembali menyambar bibir Pakde Karto sambil
tangan kanannya, tangannya yang cantik dengan jari-jarinya yang lentik
itu meremas dan mengelusi batangan gede penis Pakde Karto. Ah, Rini..
Riniku.., batin Herman yang menangisi isterinya.
Bersambung...
Disadur dari
http://rumahseks.blogspot.com