Sepulang dari kantor Pakde kulihat Mas Herman sangat tegang, kasihan.
Aku berjanji pada diriku, apapun aku akan bantu suamiku. Aku ingin
meringankan bebannya. Dia langsung duduk bengong, linglung. Aku sodorkan
segelas air putih yang langsung diminumnya habis. Dia belum juga
ngomong. Diserahkannya padaku amplop yang penuh. Loh, kok dapat malahan
uang, pikirku. Aku langsung membukanya. Kudapati segepok uang dan
secarik kertas. Aku belum juga ngerti makna semua ini.
Pakde
Karto akan menjemput kami besok pagi. Apa maksudnya? Mau menjemput
kemana? Dengan penuh tanda tanya aku goyang-goyangkan tubuh Mas Herman.
Akhirnya dengan tersendat-sendat dia bicara dan bicara. Aku mencoba
menangkap kata per kata. Kemudian aku mencoba memahami rangkaian
kata-kata tadi. Hingga akhirnya aku tetap tak mengerti bahwa seorang
Pakde Karto akan caranya yang demikian buruk untuk bisa mendapatkan dan
menikmati tubuhku. Ah, kenapa mesti begini..?!
Tetapi yang
sesungguhnya paling menyedihkan dan langsung membuatku sangat kecewa
adalah sikap Mas Herman sendiri. Dia sama sekali tidak menunjukkan
kapasitasnya sebagai suami. Dia ternyata hanyalah seorang pengecut. Dia
dengan begitu tega mengorbankan aku sebagai isterinya. Dengan dia
menerima amplop berisi uang yang kini ditanganku berarti dia benar-benar
telah menjual aku dan menjadikan aku sebagai alat untuk membayar
hutang-hutangnya dengan sama sekali tidak membicarakannya padaku
terlebih dahulu. Dan kini, aku harus dan harus menerima buah
kepengecutan dia. Aku langsung limbung. Kulihat dinding-dinding kamar
oleng dan jungkir balik. Tubuhku sangat lunglai dan aku langsung
terjerembab ke lantai. Aku kini merasa sebatang kara tanpa ada
seorangpun yang melindungiku. Fungsi Mas Herman sebagai suami sudah
musnah karena kepengecutannya. Dia tak akan pernah mampu menyelamatkanku
lagi.
Kurasakan tangan Mas Herman menarikku bangkit.
Pelan-pelan aku bangun dari lantai dan langsung lari ke kamar tidur.
Pintunya kubanting dan aku mengunci diriku. Aku rebah tergolek dan
tersedu di ranjang. Ketukan pintu yang bertubi-tubi dari Mas Herman tak
kudengarkan. Kini yang hadir dalam hati dan pikiranku adalah rasa marah,
kecewa dan dendam. Aku marah, kecewa dan dendam kepada kehidupan ini.
Kepada ketidak mampuan dan segala kelamahan yang aku alami. Kepada sikap
suamiku yang bagitu mengabaikan saat aku melarangnya berjudi. Dan tetap
tak habis heranku memikirkan rencana Pakde Karto itu yang jelas-jelas
mengorbankan hubungannya dengan keponakannya. Ber-jam-jam aku tidak
keluar dari kamar. Pikiranku terus melayang-layang memikirkan banyak
hal-hal. Aku menerawang jauh ke hari depan yang begitu gelap dan
mendung.
Aku keluar kamar menjelang malam. Tak kujumpai Mas
Herman. Kulihat amplop di meja setengah terbuka. Kuambil. Ternyata
isinya tinggal separuh.
Edaann.., sungguh edaann.. kamu
Mas.., dalam situasi begini kamu masih menyempatkan pergi untuk ke
bandar togelnyaa..!! Edaann..!!
Tiba-tiba aku hatiku jadi
menyala berkobar.. Kalau begini jadinya, sudahlah.. terjadilah apa yang
mesti terjadi. Seperti dicambuk jilatan geledek dan petir aku bangkit
sebagai banteng betina yang sangat marah dan kecewa. Aku mau bebas. Aku
mau merdeka. Dan, ah, aneh.., tekad itu langsung membuat marah, kecewa
dan dendamku langsung pupus. Kebebasan dan kemerdekaanku membuka
kesadaranku bahwa aku tak perlu tergantung siapapun. Dan yakin mampu
berjalan sesuai dengan rasa bebas dan merdekaku.
Sikap itu
langsung membatu dalam diri sanubariku. Aku akan mengambil langkahku
sendiri. Kini kuyakini, akulah yang harus mengambil keputusan untuk
diriku sendiri. Tak ada lagi suami atau Mas Herman. Yang ada hanyalah
aku yang sendirian dengan hari-hari depanku sendiri. Aku akan jalani apa
yang mesti aku jalani. Aku akan jemput Pakde Sastro sesuai dengan
kebebasan hatiku. Aku akan layani dan puaskan hausnya nafsu hewaniah
Pakde Sastro. Aku akan mereguk kenikmatan syahwatku yang selama ini tak
sepenuhnya kudapatkan. Aku akan tunjukkan pada Herman bahwa aku kini
bebas se-bebas-bebasnya.
Cerita Pakde Karto
Setiap
mengingat bahwa aku ini hanya jebolan SMP dari desa kecil di kecamatan
Sleman, Yogyakarta, yang kalau aku turun di terminal saat pulang kampung
masih memerlukan 1 jam lagi berjalan kaki dan nyeberangi kali hingga
sampai ke rumahku di kaki bukit Menoreh, maka aku merasa bahwa apa yang
kini aku bisa raih di Metropolitan Jakarta ini sungguh membanggakan.
Dan
kalau aku pulang kini, ibaratnya aku cukup dengan duduk di jok empuk
sambil nginjak-injak rem serta gas mobil Panther-ku sejak start dari
pintu garasi rumahku di Jakarta hingga turun di samping kandang sapi
orang tuaku di desa kecil di kecamatan Sleman itu.
Jakarta
memang memberi apa yang kuminta. Usahaku yang menyalurkan tembakau untuk
pabrik-pabrik rokok kecil di Jakarta membuahkan hasil. Aku menjadi
pusat omongan di desaku.
Kalau kudengarkan omongan orang
desa, aku kini sudah menjadi orang yang pantas menjadi contoh mereka.
Nggak tahu dari mana asalnya, kalau mereka ketemu mereka memanggilku
dengan 'den Karto'. Aku nggak menampik panggilan itu. Aku anggap bahwa
itu urusan mereka.
Yaahh.., semuanya itu karena kerja keras
dan uang yang kuhasilkan. Terbukti dengan uang aku bisa meraih banyak
kesenangan. Makan enak, rumah, beberapa mobil dan kesengan lainnya.
Bahkan
biarpun umurku sudah 57 tahun dengan uang itu aku tetap dengan gampang
menggaet gadis atau janda manapun yang kumaui. Memang menurut
orang-orang aku juga termasuk lelaki yang memiliki tampang dan
seksualitas yang lumayan.
Saat ini aku lagi kesengsem sama
Rini istri Herman keponakan sepupuku. Pada awalnya Herman menemuiku di
kantor untuk minta bantuan keuangan padaku. Aku memberikan bantuan ala
kadarnya. Aku pikir nggak baik terlalu gampang pada famili, nantinya
bisa jadi repot. Saat pulangnya, karena memang masih ada hubungan
famili, aku antar pulang ke rumahnya untuk melihat keadaan rumah
tangganya. Saat itulah aku lihat Rini. Isteri Herman ini benar-benar
cantik dan manis. Pikiranku langsung terganggu. Aku tahu, perempuan
macam Rini ini akan sangat galak dan panas saat di ranjang. Dengan warna
kulit yang coklat hitam manis, dengan postur jangkung dan bahunya yang
bidang indah itu, aku pastikan Herman kewalahan menghadapi birahinya
Rini. Lihat, betisnya itu. Betis yang 'merit' bak padi Cianjur yang
matang dan padat sebelum dituai. Itu menandai bahwa nafsu perempuan ini
tak mudah terpuaskan.
Aku langsung kasmaran. Dalam hatiku aku
langsung bertekad. Rin, kamu pasti akan tidur bersamaku. Aku akan
meraihmu, lambat atau cepat. Sejak saat itu aku selalu menunggu
kesempatan. Aku tak pernah menolak permintaan pinjaman uang Herman,
karena memang aku selalu gunakan kesempatan itu untuk melihat Rini.
Suatu
saat bisnisku mendapatkan kesulitan keuangan. Tagihan-tagihanku agak
tersendat karena para langgananku mengulur waktu pembayarannya.
Sementara para pemasokku yang dari berbagai daerah gencar banget menagih
aku. Bahkan salah satu dari mereka mengancam aku secara fisik hingga
aku khawatir akan keselamatanku maupun keluargaku. Aku menghadapi krisis
berat, krisisnya bisnis di tengah metropolitan yang kejam. Aku
kewalahan. Aku coba tengok-tengok kembali dimana uang-uangku. Dimana
tunggakan-tunggakan macet.
Dan kudapatkan dari sekian
penunggak hutang salah satunya adalah Herman. Ternyata pinjaman Herman
padaku sudah kelewat besar dan telah jauh melewati batas waktu
pembayaran. Ah, ini tak boleh kubiarkan. Aku tahu bahwa tak akan gampang
bagi Herman melunasi hutang-hutang ini. Tetapi aku harus menagihnya.
Bukankah terakhir ini dia suka pasang lotere buntut. Siapa tahu dia
dapat pukulan telak yang bisa langsung melunasi seluruh hutangnya. Dan
kalau toh tak bisa juga?
Bukankah ada Rini istrinya yang
sangat seksi itu? Aku pikir biarlah hutang itu kuanggap lunas kalau aku
bisa meniduri Rini barang 2 atau 3 hari saja. Kini kuperintah orangku
untuk mendatangi Herman dan mengajukan surat tagihannya.
Setelah
beberapa kali mencari-cari orangku tak berhasil menemui Herman aku
mulai kesal. Masak bantuan dan kebaikanku padanya selama ini tidak
dihargai. Setidak-tidaknya ada omongan atau janji kapan, begitu loh. Aku
tersinggung dan marah. Herman ini mesti dikasih pelajaran. Dia harus
tahu bagaimana aku Pakdenya menyelesaikan masalah-masalahnya. Aku harus
cari siasat. Aku coba pikirkan dan analisa.
Kesimpulanku
akhirnya, bahwa Herman tak akan mampu membayar hutangnya. Kuhitung telah
lebih dari 15 juta rupiah, belum termasuk bunganya. Itu jumlah yang
besar buatku kini. Aku tak mau rugi. Aku tak mau hasil jerih payahku
begitu saja diambil Herman yang memang dasarnya pemalas itu. Aku harus
mendapatkannya kembali uang itu. Kalau nggak bisa juga, aku harus
dapatkan pengganti yang kira-kira nilainya sepadan. Rini, istrinya!
Kini
Herman tinggal pilih, bayar hutang dengan uang atau Rini. Aku bergegas
ke mejaku. Kutulis surat untuknya. Kuperintahkan orangku kembali
mengantarkannya dengan pesan, kalau tak ketemu Herman, serahkan saja ke
isterinya, suruh dia baca untuk disampaikan ke suaminya. Aku bersiasat
dengan memberikan nada harapan pada surat itu. Aku minta datang ke
kantor siang hari itu. Aku bilang jangan khawatir, ada jalan keluar yang
sama-sama menguntungkan, tulisku.
Nah, akhirnya datang juga
si pecundang ini. Dengan diantar Satpam dia masuk keruangan kerjaku. Aku
menampakkan wajah sangarku. Kuperintah Satpamku agar menunggu dan
mendengarkan bicaraku. Nampak wajah lelahnya. Aku bicara garang tentang
hutangnya yang sama sekali belum dibayar. Aku berikan padanya kesempatan
untuk mendengar bicaraku atau urusannya jadi lain. Nada bicaraku kubuat
sangat menekan dia. Dan ternyata Herman langsung menyerah. Dia bilang
terserah bagaimana aku. Yang penting dia ingin lekas terbebas dari
hutang-hutangnya yang menumpuk itu.
Aku langsung bayangkan
bahu bidangnya Rini. Juga betisnya yang bak beras Cianjur yang matang
itu. Kutolehkan kepalaku ke Satpam. Kusuruh dia keluar ruangan. Kemudian
aku mendekat ke Herman, kupegang bahunya dan kudekatkan bibirku ke
telinganya, aku berbisik. Kuucapkan apa mauku. Aku mau mengajak Rini ke
villaku selama 3 hari dan aku mau juga dia ikut untuk menggantikan tugas
pelayanku yang kusuruh pulang selama aku bersama Rini di sana. Hal ini
aku lakukan agar pelayanku itu tidak melihat apa yang kuperbuat dan
lapor pada istriku. Kutekankan pula bahwa semua ini karena ulahnya yang
tidak bertanggung jawab. Dia harus menerima pelajaran dariku.
Aku
belum selesai bicara saat kulihat Herman nampak limbung dengan cahaya
matanya yang layu. Dia rebah lemas ke lantai. Aku panggil kembali
Satpamku untuk mengurusinya. Kuserahkan amplop berisi 20 lembar ratusan
ribu rupiah berikut sedikit catatanku agar Rini bersama dia telah siap
aku jemput besok jam 7 pagi. Aku percayakan pelaksanaan selanjutnya pada
Satpamku, aku tinggalkan ruangan. Aku monitor sorenya. Tidak ada reaksi
penolakkan dari Herman. Yaa.., dia nggak mungkin punya lain pilihan.
Dan mengenai Rini. Aku yakin Rini tak akan menolakku. Aku masih ingat
beberapa hari yang lalu saat aku mencuri ciuman dibibirnya, dia tidak
menunjukkan kemarahan. Ah.. besok aku akan menikmati tubuh sensualnya.
Aku menggigil menahan gelora birahiku yang langsung menyala.
Tiga hari di Villa Rimbun Ciawi
Pada
suatu pagi hari, sekitar jam 7 pagi sebuah sedan Honda Civic keluaran
terbaru dengan remnya yang berdernyit berhenti di depan rumah keluarga
Herman. Seorang sopir yang amat sopan nampak turun, masuk kehalaman dan
memberikan salam hormat kepada nyonya rumah yang rupanya sudah nampak
tak sabar menunggunya. Tidak terlalu lama sang sopir menunggu, tuan dan
nyonya rumah mengambil koper atau cangkingan lainnya yang telah
disiapkan sebelumnya. Sesudah semua barang bawaan masuk ke begasi,
Herman sang tuan dan Rini sang nyonya memasuki mobil. Ada sedikit
insiden kecil. Rini mau Herman duduk di depan bersama sopir dan dia
sendirian di belakang. Semula Herman menolak, dia ingat pesan Pakdenya
mereka harus nampak sebagai suami istri yang akan memakai villanya.
Tetapi
melihat kukuhnya Rini akhirnya Herman mengalah. Sepanjang hampir 1 jam
perjalanan keduanya tidak banyak bicara. Hanya sesekali terdengar Herman
ngomong sama sopir mengenai apa yang nampak sepanjang perjalanan.
Adapun Rini kelihatannya sedang berusaha untuk menenangkan dirinya. Dia
yang telah memutuskan dirinya sebagai pengambil keputusan bagi dirinya
sendiri kini nampak tegar dan yakin akan keputusannya sebagai orang yang
bebas dan merdeka untuk menentukan apapun yang terbaik bagi dirinya.
Bersambung...
Disadur dari
http://rumahseks.blogspot.com